Tahukah Kamu ??????? ========>>> Sarapan Pagi ternyata sangat penting karena ternyata Metabolisme bekerja 20 % lebih cepat dan secara bertahap makin menurun hingga malam,,,!

Wawasan Kepemimpinan
Mengembangkan Wawasan Kepemimpinan
Gedung Pusat Studi Jepang di lingkungan Universitas Indonesia pada 25 April 2008 lalu terlihat penuh sesak. Lebih dari 700 mahasiswa menghadiri Seminar “Earth in the Crossroad” yang digelar PPSDMS Regional 1 Jakarta. Sebuah gebrakan dahsyat karena gedung PSJ sebenarnya berdaya tampung 250 orang. Bukan hanya peserta yang membludak, tapi pembicaranya juga kompeten, yakni pakar global warming, Amanda Katili (Ketua Sekretariat Presiden untuk Conference of Party ke-3 di Kyoto, Jepang), Gunardi (dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup), dan Nurul Isnaeni (Dosen FISIP UI Jurusan HI). Topik seminar adalah implikasi pemanasan global terhadap kehidupan manusia.
Seminar yang dimoderatori Andy Setyawan, mahasiswa Filsafat UI dan sekaligus Peserta PPSDMS Regional 1, itu menghadirkan Rektor UI Prof. Dr. Gumilar R. Sumantri sebagai pembicara kunci. Ia menceritakan pengalamannya seputar perubahan musim dan temperatur udara di beberapa kota, seperti Bandung dilanda hujan es, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. “Sivitas akademika UI sangat peduli dengan pelestarian lingkungan, karena itu segera meluncurkan program jalur bersepeda di sekeliling kampus”, ujar Pak Rektor.
Dalam paparannya, Amanda Katili, menampilkan slide yang pernah disajikan Al Gore, mantan Wakil Presiden AS yang memenangkan Nobel Perdamaian 2007. Sementara itu, Gunardi menjelaskan strategi pemerintah dalam menghadapi climate change dan tindak lanjut COP ke-13 di Bali. Pembicara terakhir, Nurul Isnaeni, mendedahkan agenda yang harus dikawal pasca Protokol Kyoto. Seminar dipuncaki tanya-jawab yang seru antara peserta dan pembicara.
Kegiatan seminar dan diskusi publik adalah salah satu program yang dirancang PPSDMS di seluruh regional untuk mengembangkan wawasan kepemimpinan. Selain di Jakarta, PPSDMS Regional 3 Yogyakarta juga menyelenggarakan Simposium Nasional Kepemimpinan Pemuda bertajuk “Kepemimpinan Pemuda dan Indonesia yang Lebih Baik” (19/5). Sebagai pembicara kunci tampil GKR Pembayun (Ketua Karang Taruna DI Yogyakarta) dan Menneg Pemuda dan Olahraga Dr. Adhyaksa Dault, SH. Tiga tokoh muda menjadi pembicara utama dalam diskusi bebas yang diikuti 600 peserta, yakni: Anis Baswedan, Ph.D (Rektor Universitas Paramadina), Deny Indrayana, Ph.D (Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi UGM), dan Sudirman Said, MBA (Corporate Secretary PT Pertamina Pusat).
Peserta Regional 5 Bogor tak mau ketinggalan. Mereka mengadakan seminar kepemimpinan pada 20 April 2008 dengan tema “Boost Your Leadership Skill”, yang dibuka resmi Rektor IPB, Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, MSc. Direktur InterCafe, Iman Sugema, PhD., tampil dalam diskusi yang dihadiri 300 peserta. Acara bertambah meriah dengan ‘provokasi’ Master Trainer, Arief Munandar, dalam sessi khusus membongkar potensi diri. Kaum muda sebagai calon pemimpin masa depan memang harus menyadari kekurangan dan kelebihan dirinya, dan tak pernah berhenti belajar demi mengembangkan wawasan. [Spt. Laporan: Andy, Reza dan Galih]
sapto 26 May 2008 Berita, Berita Bogor, Berita Jakarta, Berita Jogjakarta

Judul: Re-Code Your Change DNA
Penulis: Rhenald Kasali
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2007
Tebal: 250 + xviii


Apa yang menyebabkan seseorang, suatu organisasi atau suatu bangsa sulit berubah? Itulah sifat bawaan atau tradisi yang dipertahankan turun-temurun sejak zaman nenek-moyang dulu hingga anak-cucu sekarang. Bila sifat dan tradisi itu positif, mungkin menjadi berkah tersendiri. Sebaliknya bila negatif, maka sifat dan tradisi itu akan membelenggu setiap orang atau bangsa, sehingga gagal mencapai prestasi dan kemajuan yang diinginkan. Karena itulah, penulis buku ini menyarankan rumus jitu: Format ulang DNA Anda!

Di dalam diri kita ada DNA (deoxiribo nuclead acid) yang bersifat biologis dan behavioris. DNA Perubahan (Change DNA) adalah konsep tentang pembentuk perilaku manusia, yang diadopsi dan diperluas pengertiannya dari DNA Psiko-sosial atau DNA Wirausaha (Entrepreneurship DNA). Suatu konsep rumit, namun penulis mampu menjabarkannya kepada pembaca dengan bahasa yang renyah. Sajian buku ini tambah menarik karena dilengkapi dengan contoh-contoh praktis dari dalam dan luar negeri, serta didesain secara khusus untuk menonjolkan makna-makna kunci yang perlu ditangkap pembaca. Sebuah inovasi dalam penulisan buku manajemen dan kepemimpinan yang patut diacungi jempol.

Istilah DNA aslinya ialah sebuah unsur pembawa sifat yang berbentuk molekul yang menyimpan informasi tentang gen seseorang. Informasi itu disimpan dalam bentuk sandi berupa kode genetik (kodon). Ilmu genetika biologi terus berkembang dan kemudian membentuk cabang baru, yakni genetika perilaku. Berdasarkan penelitian T.L. Harrison (2005) diperkirakan sekitar 50% perbedaan kepribadian manusia terkait dengan genetikanya. Buku ini melacak akar perubahan dalam skala individu dan organisasi, dan mengajukan formula yang bisa diterapkan siapa saja.

Inilah buku kedua Rhenald Kasali yang tampil eksklusif setelah buku pertamanya, CHANGE, laris hingga mengalami cetak ulang beberapa kali. Penulis kini menjabat Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia. Sebelumnya, selama tujuh tahun ia mengepalai program doktor di kampus yang sama. Di luar tugas mengajar, ia membangun UKM Network Centre yang mendorong petani untuk meningkatkan ekspor nonmigas. Pada tahun 2006, sebenarnya ia dicalonkan menjadi Guru Besar di Fakultas Ekonomi UI, tapi dijegal oleh oknum yang tak suka. Buat dia gelar formal tak terlalu penting, sebab masyarakat menuntut kontribusi kongkrit. Ia menjadi pembicara di berbagai seminar dalam dan luar negeri, disamping tampil di media elektronik berupa talk show di radio dan televisi.

Dalam buku ini kita diperkenalkan dengan model lima faktor (The Big 5) sebagai pembentuk kepribadian yang bersifat “highly inheritable” (sangat terbawa pada keturunan). Kelima faktor itu diformulasikan sebagai DNA Perubahan, sesungguhnya berasal dari konsep OCEAN (Costa & McCare, 1997) yang bermakna: “Openness to experience” (keterbukaan terhadap pengalaman baru), Conscientiousness (keterbukaan hati dan telinga), Extroversion (keterbukaan hubungan dengan orang lain), Agreeableness (keterbukaan terhadap kesepakatan), dan Neuroticism (keterbukaan terhadap tekanan psikologis).

Penulis tak hanya membeberkan bagaimana kelima faktor itu bekerja dalam diri manusia, melainkan juga bagaimana cara mengukur kelima faktor itu dalam diri kita masing-masing. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kadar DNA Perubahan dalam diri sendiri. Bila terbukti DNA kita tak sesuai dengan perkembangan zaman, maka kita harus melakukan reformulasi itu.

Itulah proses Re-Code yang berarti membentuk kembali kode sel-sel pembentuk sifat agar fit dengan kebutuhan zamannya. Re-Code tak lain membentuk kembali cara berpikir dan cara memimpin. Dengan gamblang penulis melukiskan hubungan antara pikiran dan karakter manusia dengan hasil kerja dan penampilan seperti ilustrasi bongkahan es di atas air. Yang tampak di permukaan air hanya puncak gunung es (berupa kerja dan perilaku nyata), padahal di bawahnya tersembunyi akar es (emosi dan pikiran). Cara terbaik untuk melakukan perubahan ialah dengan menyentuh karakter dan pola pikir manusia.

Manusia menjadi pusat perhatian, sebab merekalah pelaku utama perubahan, sebelum penerapan teknologi atau teori manajemen dan pembenahan lingkungan. Bagian paling penting dari manusia itu adalah khalayak pemimpin, karena mereka yang akan menentukan arah yang hendak dituju. Setelah itu adalah kelompok orang yang kritis (critical mass) yang mempengaruhi kondisi organisasi. Penulis menguraikan secara bertahap, bagaimana menata ulang DNA individu dan organisasi (struktur, nuansa, keterkaitan, dan batasan kerja). Semuanya berpangkal pada Re-Code Pikiran, yakni mengubah cara berpikir yang berkutat pada masalah (problem based) menjadi pencarian solusi (solution based).

Jika pada bab-bab awal pembaca mengalami kesulitan pemahaman karena berbagai istilah teknis, penulis menganjurkan untuk melompat ke bab selanjutnya, tapi sebaiknya dibaca sampai tuntas. Dari situ kita merasakan sistematika pemikiran yang menggugah kesadaran. Namun, seperti anti-klimaks, pada bagian terakhir (Epilog) penulis berbicara tentang filosofi perubahan. Dijelaskannya, perbedaan antara manajer yang reaktif dengan manajer yang proaktif, yakni mereka yang tergantung pada fluktuasi kejadian yang muncul serta mereka yang selalu ingin membentuk dan mempengaruhi lingkungan dimana ia berada.

Ada empat filosofi perubahan yang ditelusuri, yaitu life cycle (siklus kehidupan), evolusi, dialektik (pertentangan antar tesis dan antitesis), dan teleologi (melihat jauh ke depan). Ini sebuah kajian mendasar yang harus dipahami peminat sosiologi dan antropologi. Setiap filosofi memiliki kata kunci, dasar penyebab, dan proses tersendiri. Di balik filosofi itu juga ada pemikirnya: Auguste Comte dan Herbert Spencer (siklus hidup), Charles Darwin dan George Mendel (evolusi), Hegel dan Karl Marx (dialektik), serta Margaret Mead dan Max Weber (teleologi). Pemikiran Comte dan Spencer sebenarnya pernah disinggung Ibnu Khaldun beberapa abad sebelumnya dalam Muqaddimah. Resep Re-Code DNA Perubahan ternyata bersumber dari kajian filosofis yang mendalam, bukan hanya formulasi manajemen terapan.

Melalui filosofi siklus hidup, Re-Code menegaskan pentingnya melakukan peremajaan (rejuvenasi) sebelum menjadi individu dan lembaga mengalami penuaan. Dalam filosofi teleologi, Re-Code dilakukan dengan target yang dibentuk dari perencanaan matang. Sedangkan filosofi evolusi dan dialektik memandang perubahan sebagai interaksi dua atau lebih institusi yang bersaing dan saling rebut pengaruh. Persaingan evolutif akan melahirkan seleksi alam, sehingga Re-Code berarti menyempurnakan proses interaksi agar muncul budaya inovasi. Sementara dialektik memandang adanya perbedaan yang menimbulkan konflik, sehingga Re-Code ditujukan untuk memelihara keberagaman.

Usai membaca buku ini, pembaca diharapkan mampu mengenal sumber perubahan dalam diri masing-masing. Setelah itu, baru bisa dilakukan perubahan dalam organisasi dan lingkungan yang lebih kuas. Kita seperti diingatkan pada dalil suci, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasih suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah (karakter dalam) diri mereka”. [sapto]

Judul: Tarbiyah Qiyadiyah, Mencari Pioner Dakwah Panutan Umat
Penulis: Jasim Muhammad Muhalhil al-Yasin
Penerbit: Pustaka Nawaitu, Jakarta
Tahun: 2005

Saat ini banyak orang berbicara tentang sosok pemimpin ideal, tapi sayang kebanyakan berfokus pada perebutan posisi politik. Penulis buku ini menegaskan, kepemimpinan bukan persoalan jabatan atau kedudukan formal yang diperebutkan banyak orang. Sosok pemimpin pada dasarnya terkait dengan keteladanan yang membawa pengaruh kepada lingkungan, sehingga setiap orang memahami tugas yang harus diembannya demi mewujudkan tujuan bersama.

Istilah pemimpin dalam bahasa Arab ialah Qiyadah, dari akar Qa-id, yakni tiang yang menyangga bangunan atau tongkat yang menunjukkan arah jalan. Dari istilah sederhana itu tergambar betapa besar peran seorang pemimpin untuk menjaga keutuhan masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok berbeda kepentingan. Seorang pemimpin sejati mampu mengakomodasi segala aspirasi yang beragam dan mengarahkan seluruh potensi yang tersebar menuju cita-cita kolektif.

Judul asli buku ini adalah “Al-Qiyadah: al-Asbab ad-Dzatiyah li Tanmiyat al-Qiyadiyah” (faktor-faktor yang inheren untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan). Penulis, Jasim Muhalhil, yang dikenal sebagai penggerak dakwah lintas negara mengungkapkan seorang pemimpin harus mengenal potensi yang terdapat dalam dirinya, lalu berupaya mengaktualisasikan semua kebaikan dan menekan keburukan/kelemahan yang ada.

Proses tumbuhnya jiwa kepemimpinan itu mirip dengan perkembangan diri manusia. Ada fase kanak-kanak (marhalah at-Thufulah), ketika sekelompok orang taat pada figur yang sangat berpengaruh (paternalisme), sehingga hubungan yang terbangun bersifat patron-klien. Fase berikutnya adalah masa pancaroba (marhalah al-Bulugh) ditandai keinginan untuk berpendapat dan berkreasi secara bebas. Dan, fase terakhir berupa kondisi kematangan dan kedewasaan (marhalah al-Nudhji), melukiskan kesiapan untuk memikul beban bersama dan menaati aturan main yang terlembaga.

Lahirnya seorang pemimpin bisa disebabkan penugasan (qiyadah wazhifiyah) atau tuntutan situasi dan kondisi (zharfiyah mauqufiyah). Namun, yang lebih penting adalah memperhatikan nilai dan karakter (simatiyah) yang harus dibangun dari diri sang pemimpin. Dengan cukup jeli, penulis menjabarkan hubungan kepemimpinan dan kemampuan manajerial. Empat dimensi manajemen yang disinggung: perencanaan (takhthith), pengorganisasian (tanzhim), pengawasan (riqabah), dan pengarahan (taujih/direction).

Faktor pelaksanaan atau implementsi kerja (actuating) kurang dibahas. Padahal, itu merupakan titik lemah yang amat kentara. Banyak pemimpin yang paham nilai normatif atau kerangka konsepsional, namun lemah dalam penerapan kebijakan dan program. Selain itu, penulis juga menempatkan faktor pengawasan di awal sebagai prioritas, mengapa? Padahal, biasanya controlling atau monitoring dan evaluating dilakukan di tengah atau ujung proses sebagai umpan balik bagi kebijakan dan progam di masa datang.

Bagian paling menarik ialah resep 10 metoda untuk melejitkan potensi kepemimpinan. Pertama, memperkuat intuisi, kecakapan dan ketepatan mengambil putusan. Karena itu, kepemimpinan sering didefinisikan sebagai seni mengarahkan orang banyak atau seni mengambil putusan untuk kebaikan organisasi.

Kedua, menumbuhkan efektivitas pelaksanaan amal bagi para pengikut yang bersamanya. Daya mobilisasi dengan persuasi, bukan intimidasi atau manipulasi. Faktor yang menumbuhkan sikap dinamis para bawahan atau pengikut antara memberi ilustrasi atau contoh, menjelaskan fungsi imbalan dan urgensinya.

Ketiga, memperhatikan hukum-hukum kauniyah dan syar’iyah dalam pengelolaan organisasi. Tiga syarat penting perlu dipegang dalam hal pendayagunaan dan optimalisasi akal untuk pemecahan masalah, menjaga perasaan seseorang bahwa ia memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain (empati/kontribusi), dan keyakinan seorang pemimpin dengan impian yang akan diraihnya.

Keempat, pentingnya motivasi seorang qiyadah terhadap para pengikutnya. Kelima, selalu berusaha membuktikan ucapan/instruksi dengan amal nyata. Keenam, melatih diri dalam membuat perencanaan dan strategi yang baik. Ketujuh, membiasakan upaya menyelesaikan berbagai problema, jangan menghindar dari masalah, karena hanya akan membuat lemah. Kedelapan, menyiapkan iklim yang kondusif untuk beraktivitas dan memberi (caring and giving). Kesembilan, selalu berkomunikasi dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup, merujuk pada sumber nilai tertinggi dalam menghadapi kenyataan yang kompleks. Kesepuluh, penggunaan bahasa secara baik dalam interaksi keseharian dengan para pengikut dan masyarakat luas.

Pada akhirnya kualitas pemimpin ditentukan sikap disiplin, seperti ditampilkan Syaikh Ali bin Aqil (lahir 431 H), guru dari Imam Ibnul Jauzi. Ia pernah berkata: “Sungguh saya tidak bisa mentolerir diriku sendiri sekiranya ada satu jam dalam umurku yang tersia-siakan, sampai lisanku lalai dari belajar dan berdiskusi, pandanganku terlewat dari membaca. Maka, aku harus mengoptimalkan pikiranku saat beristirahat, kemudian aku tidak akan bangun, melainkan telah terlintas dalam piiranku apa yang akan aku tulis.” Disiplin untuk mengkomunikasikan ide kepada publik luas, agar kesadaran masyarakat meningkat.

Lebih tegas lagi, pernyataan Umar bin Khathah kepada Mua’wiyah, setelah penaklukan Alexandria, Mesir. Umar berujar: “Sekiranya aku tidur pada siang hari, pastilah aku telah menyia-nyiakan rakyatku (dari kewajiban pelayanan). Sekiranya aku tidur pada malam hari, pastilah aku telah menyia-nyiakan diriku sendiri (dari kewajiban beribadah). Karena itu, wahai Mua’wiyah, bagaimana pendapatmu, jika (ada yang) tidur dalam dua kondisi itu (terus-menerus sian dan -malam)?” Tak ada waktu istirahat untuk pemimpin, bila semua tugas publik dijalankannya dengan penuh komitmen. Rehatnya adalah masa transisi antara satu tugas menuju tugas lain. [spt]

;;
TI0909